Slow But Sure (2nd story)


Author : @HareTa_mi

Casts : Donghae, Sooyeon (Jessica), Jung Il Woo (ocs)  and you’ll find other cast.

Genre: romance, conflict, friendship, tragedy, angst

Rate : PG

Length : chapter

Disclaimer : this story and cover is mine.

siders, readers, atwpun yg ga baca cman ngucapin telat banget nge post nya.. jeongmal mianhe… aku lupa lanjutinnya.. mlah cri” inspirasi u/ buat ff yg lain… ^_^

(: Enjoy reading🙂

*^*^*^*^*

Don’t go out and play

I just dream all day

They don’t know what’s wrong with me

And I’m too shy to say….

It’s my first love, our first love… 

What I’m dreaming on

When I go to bed

When I lay my head upon my pillow

Don’t know what to do!

Author pov

Donghae mendatangi kordinator ketenagakerjaan di SMC.

“yak, tuan lee, ada apakah gerangan kau datang kesini? Ke bagian ketenagakerjaan, apa ada rekanmu yang ingin melamar di sini?” tanya eunjoon ketika melihat donghae yang sepertinya datang dengan segudang keperluan penting.

“ahni. Aku hanya ingin meminta data diri salah seorang pegawai disini!!!”

“nuguseyo?”

“jung soo yeon. Yang kudengar baru- baru ini diangkat mejadi staf dan katanya lumayan penting untuk presdir!”

“owh, sooyeon, siswi SMA itu. Duduklah. Akan ku carikan sebentar!!!”

Eunjoon pun beranjak menuju lemari tempat penyimpanan arsip- arsip penting biodata pegawai. Eunjoon sedikit kesulitan mencari data itu, karena waktu itu eunjoon keluar kota, sehingga saat sooyeon jadi pegawai baru, rekan kerja lain yang meletakkan data- data itu. Eunjoon masih mencari dengan gerakan tangan yang relatif cepat dan mata jeli untuk mengidentifikasi. Sesaat kemudian, eunjoon tiba- tiba saja menghentikan pencarian seperti teringat sesuatu.

“jamkkan. Waeyo? Kenapa aku bodoh sekali mau mencarikan data- data itu untukmu donghae ssi? Memangnya kau itu presdir yang suka memerintah!!!”

eunjoon bangkit dan berkacak pinggang di depan donghae yang seenaknya saja menyuruh tanpa alasan.

“oh, mianhe. Aku lupa memberi tahumu. Ada masalah penting antara aku dan yeoja itu…”

“lalu untuk apa data dirinya???” sergah eunjoon memotong pembicaraan.

“maksudku aku harus tahu dulu data- data pasti gadis itu, agar masalah kami tidak terlalu rumit dan berkepanjangan.” Jawab donghae mantap.

Eunjoon pun mengangguk- ngangguk mengerti.

“eps, tapi masalah penting apa itu?” tanya eunjoon mencari tahu.

“penting untuk aku dan dia, tidak untukmu!!!” jawab donghae sedikit jengkel.

“ugh, gwhenchana… nanti akan ku check di komputer bila ada!!!”

***

“SM company. Perusahaan milih tuan choi si won. Tempat anakku sekarang bekerja. Tidakkah begitu? ”

Il woo yang tadinya terkejut melihat kedatangan soo yeon sebagai rekan kerjanya sekarang mulai bisa mengendalikan emosinya. Sebelumnya ia tahu sooyeon bekerja,tapi ia tidak pernah menyangkan ternyata perushaan temannya menjadikan anaknya sendiri sebagai staf disana. Padahal seharusnya ia yang mengangkat anaknya sebagai staf di perusahaannya sendiri dan nantinya sooyeon lah yang akan menjadi pewaris di super dream star.

“ne.. sir…” sooyeon berusaha berbicara se formal mungkin ibarat ia biasa bertemu untuk mengadakan kerja sama.

“jadi, kita yang akan mendiskusikan masalah kerja sama antara SDS dan SM???”

“ne…hm… sir.. ”

“_SIR_ panggilan dari anak untuk ayahnya jika sedang bekerja???” pikir il woo.

“jadi apa rencanamu???”

Sooyeon sedikit mengerutkan keningnya dengan pertanyaan semacam itu.

“mianhamnida. Bisakah anda jelaskan lagi???”

“apa recanamu untuk melupakan ayahmu???” sooyeon yang sudah terbawa suasana untuk mendiskusikan masalah pekerjaan akhirnya langsung terkesiap mendengat penuturan ayahnya yang dianggap mengikutcampurkan antara pekerjaan dengan masalah pribadi.

“maaf sir….” sooyeon tidak melanjutkan. Ia tidak mungkin terus mengalihkan masalah pribadinya yang berkepanjangan ini.

“jadi apa maumu? Tidak ingin tinggal denganku? Ingin bebas di luar sana? Membanting tulang sendirian? Terus membenciku sampai aku bisa membalikkan peristiwa- peristiwa yang sudah berlalu itu???!!!”

Sooyeon merasakan sebuah hentakan keras yang begitu menusuk dadanya. Ucapan tajam itu begitu menggetarkan sekujur bagian tubuhnya.

“benarkah kau ingin tau apa yang kuinginkan???”

“….”

“lupakan aku. kita mulai lembaran kehidupan masing- masing. Anggap aku tidak pernah menjadi anakmu. Anggap saja kau tidak pernah menghianati cho hye ri!”

“…” il woo tidak percaya kata- kata yang keluar itu langsung dari mulut ttal-nya yang dulunya adalah anak baik- baik. Permintaannya itu sama saja memintanya untuk meninggalkan keindahan hidup di dunia. Bagaimana mungkin ia bisa hidup tanpa anaknya? Apalagi sebelum melihat anaknya hidup bahagia?

“ku mohon. Jung soo yeon, jangan bermain- main. Aku tahu kau sudah sedikit dewasa meskipun masih SMA. Tapi tolong, berpikirlah apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jangan hanya memikirkan yang akan terjadi sekarang ini. kau bukan anak kecil lagi. Jaga omonganmu. Jangan sembarangan mengajukan permintaan bodoh itu! Dan satu lagi jangan sekali lagi kau menyindirku dengan permintaan itu!!!”

Il woo berusaha tegas kepada sooyeon yang dulunya sangat di manjanya. Tapi, bagaimanapun juga, kalau anak itu tidak di didik sedikit keras, maka ia akan terus berbuat seperti itu.

“aku sudah mempertimbangkannya. Tamat SMA nanti,aku akan masuk ke universitas seoul dengan uang yang sudah ku tabung dari dulu. Dan presdir Choi Si Won juga sudah mengangkatku sebagai stafnya karena keahlianku. Dan katanya ia sudah menjamin kemampuanku dan akan terus mempertahankanku. Jadi, apalagi yang kupikirkan, masa depanku sudah ada yang menjamin. Dan untuk apa lagi gunanya….”

“tutup mulutmu itu!!!” ilwoo dari tadi berusaha meredam emosinya. Namun kata-kata sooyeon semakin lama semakin tajam  dan mencekam membuat ucapan itu semakin dalam tertancap di relung hati ilwoo.

Plaaak…

Akhirnya satu tamparan mendarat di pipi kanan sooyeon. Bunyinya berdempam keras yang mungkin saja terdengar ke ruangan sebelah. Tapi untunglah tidak ada yang datang untuk melihat kejadian di dalam ruangan itu.

Sooyeon pov

“apa recanamu untuk melupakan ayahmu???” mmm, sudah bisa ku tebak pasti appa akan mengeluarkan kata- kata sejenis ini.

“maaf sir….” arghhh, apa yang harus ku katakan. Aku tidak bisa lagi mengalihkan masalah aku dan appa. Aku tahu ia pasti ingin masalah ini cepat berakhir. Dan pastinya inti dari masalah ini adalah aku. jadi, semua yang akan terjadi tergantung dengan apa yang akan ku lakukan. Tapi, apa? Apa yang harus ku lakukan???

“jadi apa maumu? Tidak ingin tinggal denganku? Ingin bebas di luar sana? Membanting tulang sendirian? Terus membenciku sampai aku bisa membalikkan peristiwa- peristiwa yang sudah berlalu itu???!!!”

Nah, ini dia pertanyaan yang sangat sesuai dengan dugaanku tadi. Meskipun begitu, aku tetap tidak tau kata- kata macam apa yang pas untuk menjawabnya. Ini terlalu menyakitkan. Dan pastinya tidak mungkin ku jawab dengan ucapan yang tajam juga?!!!

“benarkah kau ingin tau apa yang kuinginkan???”

Mulutku mengeluarkan kata- kata itu begitu saja.

“lupakan aku. kita mulai lembaran kehidupan masing- masing. Anggap aku tidak pernah menjadi anakmu. Anggap saja kau tidak pernah menghianati cho hye ri!” sekali lagi. Mulut ini berbicara refleks. Kata- kata tajam yang pastinya sangat menyakitkan meluncur begitu saja dari mulutku. Ditambah lagi ingatan akan eomma yang mati tragis setelah bercerai cukup lama dengan appa. Coba saja mereka tidak bercerai, pasti eomma akan diantarkan oleh supir appa waktu itu sehingga kemungkinan tertabrak di jalanan juga akan kecil. Tapi… Ah, sudahlah… perceraian itu memang tidak sengaja menghampiri keluargaku. Mungkin ini memang sudah takdir. Dan semua sudah terjadi. Aku tidak bisa lagi memutar balikkan kejadian yang sudah berlalu itu.

“ku mohon. Jung soo yeon, jangan bermain- main. Aku tahu kau sudah sedikit dewasa meskipun masih SMA. Tapi tolong, berpikirlah apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jangan hanya memikirkan yang akan terjadi sekarang ini. kau bukan anak kecil lagi. Jaga omonganmu. Jangan sembarangan mengajukan permintaan bodoh itu! Dan satu lagi jangan sekali lagi kau menyindirku dengan permintaan itu!!!”

Tidak kuperkirakan sama sekali sebelumnya. Appa bukannya marah besar tetapi malah sedikit merangkaikan kata-kata nasehat di balik ungkapan kemarahannya. Mungkin ini hanya strategi barunya yang  sudah terlalu lelah menyuruhku untuk kembali pulang ke rumah.

“aku sudah mempertimbangkannya. Tamat SMA nanti,aku akan masuk ke universitas seoul dengan uang yang sudah ku tabung dari dulu. Dan presdir Choi Si Won juga sudah mengangkatku sebagai stafnya karena keahlianku. Dan katanya ia sudah menjamin kemampuanku dan akan terus mempertahankanku. Jadi, apalagi yang kupikirkan, masa depanku sudah ada yang menjamin. Dan untuk apa lagi gunanya….”

Tidak, tidak… tidak mungkin ku lanjutkan. Aku tidak mungkin menjadi anak yang paling durhaka di dunia hanya dengan kata- kata itu. Dengan mengatakan aku tidak memerlukan appa, itu sudah sangat keterlaluan mungkin. Tapi, tuhan… ini yang kulakukan sekarang. Aku tahu hal yang buruk itu apa, tapi aku malah melakukannya. Ugh, kebencian dan rasa kasihan kepada eomma sepertinya tengah mengendalikan diriku.

“tutup mulutmu itu!!!”

Appa sepertinya sudah tidak tahan, dengan kata- kata tajam dari mulutku yang menyerang hatinya bertubi- tubi.

Plaaak…

Kejadian itu berlangsung sekilas saja. Tidak kusadari secara pasti rangkaian kejadian itu. Namun, yang kurasakan adalah rasa sakit yang sangat dalam hingga menembus hatiku yang lemah. Segenap aku merasakan pipiku panas dan memerah. Tamparan itu mungkin memang pantas untuk ku dapatkan. Aku tahu, dari awal tindakanku memang sudah salah dan keluar dari jalurnya. Tapi apalah dayaku. Kebencian dan dendam merajai setiap perbuatan yang akan kulakukan.

*****

Donghae pov

“ini datanya…” eunjoon yang menyedorkan secarik kertas A4 membuatku langsung memalingkan kegiatanku yang tengah menjelajahi ruang lingkup dunia internet.

“jeongmalneyo???” tubuhku spontan untuk berdiri.

“ne…”

“gomawo. Gomawo. Gamsahamnida… eunjoon ah…”

“cheonmaneyo” eunjoon berlalu. Sedangkan aku masih berada dalam dunia kesenangan setelah mengetahui akhirnya aku mendapatkan data diri sooyeon.

Aku langsung melihat kertas f4 itu. Ku baca satu persatu tanpa ada satupun huruf yang terlewat.

Name : jung soo yeon

Date of birth: april 18th , 1989

Place of birth : san francisco, california

Address : ___

Blood type : B

Language: Korean (Fluent), English (Fluent), Chinese (Basic), Japanese

School: performing arts seoul

Father’s name : ___

Mother’s name : cho hye ri

 

 

 

Aku yang tadinya bersemangat untuk mengetahui data diri sooyeon langsung di hinggapi segenap perasaan kecewa. Setelah semua kata ku baca, tidak satupun ku temukan kata yang mengungkapkan latar belakang berupa cerita tentang sooyeon. Yah, Yang benar saja aku ini, biodata tidak sama dengan biografi. Dan untuk melamar pekerjaan, perusahaan bodoh mana yang meminta biografi para pekerja?

“Ugh, dari awal ternyata aku memang tidak berpikir panjang!!!” gerutuku di depan layar laptop, mengungkapakan kekecewaanku.

Tapi tetap saja, aku masih tidak mengerti kenapa giliran nama ayah selalu di kosongkan di bioadatanya sooyeon. Ini sudah yang kedua kalinya. Pertama di kartu pelajarnya dan sekarang di data ini. kupikir di kartu tanda pegenalnya, pasti bagian nama ayah juga dikosongkan. Jelas saja, biodata ini pasti asalnya dari kartu tanda pengenal!

Entah kenapa setiap memikirkan bagian nama ayah yang dikosongkan, pikiranku selalu menemukan jalan buntu. Aku merasa sooyeon menyembunyikan sesuatu, tapi entah apa itu. entah ayahnya  pejabat yang korupsi sehingga ia malu, buronan yang sedang dicari- cari, direktur perusahaan yang dibenci anaknya, pengemis atau ayahnya memang sudah mati??!! Terlebih dengan perkataan presdir beberapa hari yang lalu tentang sooyeon yang memang kurang jelas asal- usulnya. Tidak jelas siapa ayahnya, kurasa itu maksud presdir waktu itu.

Tapi, aku kembali teringat di bagian address, juga tidak diisikan. “ugh, tidak mungkin yeoja ini tidak punya tempat tinggal!!!” komentarku. Sebuah tanda Tanya besar sekarang sedang berputar di kepalaku. Nama ayah dan alamat. Ku yakin dua hal itu pasti bagian penting yang dirahasiakan atau dia tidak diketahui siapa ayahnya???
dan untuk alamat,,, kenapa bisa- bisanya tidak dituliskan? Apa yeoja itu buronan? Ugh, tidak…. pastinya tidak mungkin presdir akan menerima buronan!!! Pikiranku pun semakin kacau.

***

Sooyeon pov  

malam ini, langit memancarkan kecerahan yang dipantulkannya dari bulan purnama. Malam yang begitu cerah tetapi sangat suram untukku. Aku tidak habis pikir dengan nasib buruk yang baru saja menimpaku. Baru saja terjadi, dan sekarang mampu membiusku menjad pribadi yang akan sangat rumit untuk mejalankan hidupku kedepannya. Presdir choi si won bisa dibilang telah menghianatiku. Kemarin- kemarin ini saat aku menampakkan prestasiku ia berjanji akan terus memperkerjakanku dan menjaminku sebagai pegawai tetap. Tapi waktu telah mengubah semuanya. Presdir sang penguasa yang hanya berbicara dimulut. Presdir itu dengan mudah membalikkan janjinya dan alhasil sekarang aku sudah tidak punya pekerjaan. Entah apa kesalahanku, yang jelas setelah aku mendatangi super dream star beberapa jam yang lalu, presdir choi si won langsung memecatku. Padahal tujuanku ke SDS untuk mengadakan kerja sama sudah kubuat seserius mungkin dan akan fokus. Tapi, apalah yang bisa kulakukan. Aku tidak dapat membantah, dan sekarang dengan mudah presdir choi mencampakkanku dari SMC. Aku yang dulunya diharapkan sekali oleh presdir choi untuk bekerja, sekarang malah dibuang begitu saja hanya karena bertengkar dengan presdir di SDS. Padahal semua ini tidak murni kesalahanku, tapi itulah pemimpin yang selama ini. selalu menjadi penguasa dan menguasai tanpa pernah memikirkan tindakannya terhadap pegawai. Sekalipun staf sepertiku.

***

Author pov

Donghae yang terserang stres ringan malam itu memilih menghirup udara segar berharap mendapatkan petunjuk baru. Entah apa yang telah menggerakkan hasrat donghae, namja itu berpikir kalau ia akan terus berusaha untuk mengetahui siapa sebenarnya yeoja sma bernama jung soo yeon itu.

Donghae mendatangi sebuah caffee dan memesan coffee moccacino. Lalu duduk di sudut paling sepi agar kekecewaannya tadi berangsur pergi. Kemudian pandangannya langsung teralihkan ketika melihat 2 orang yeoja yang saling bercanda. Donghae mencoba mengingat- ngingat siapa mereka berdua itu. Seperti ada sumber petunjuk yang menyala di hati donghae, namja itu tanpa rasa enggan langsung menghampiri 2 yeoja yang sedang duduk- duduk di caffee itu.

“annyeong…” donghae menyapa keduanya. Seketika 2 orang yeoja yang disapa donghae langsung menghentikan tawa mereka.

“kkkau, namja yang waktu datang ke sekolah kami?” ujar taeyeon

Seketika donghae langsung menepuk jidadnya karena, dia baru ingat kalau taeyeon dan yoona pernah bertemu dengannya di performing art seoul.

“oh, ne.. boleh aku duduk di sini???” tawar donghae yang membuat dua gadis SMA itu semakin meleleh.

“bbboleh…” jawab yoona saking gugupnya bertemu dengan namja tampan.

“kalau tidak salah namamu donghae.” tanya taeyeon yang tidak terlalu terkagum- kagum mengamati donghae seperti yoona.

“ne. Kenalkan aku taeyeon. dan temanku ini yoona.” Ujar taeyeon seraya mengulurkan tangannya sambil menunjuk ke arah yoona.

Setelah sesi perkenalan donghae pun langsung ke inti masalah.

“jadi apa kalian berdua sudah lama berteman dengan sooyeon???”

“kenapa jadi sooyeon yang ditanyakan? Jangan- jangan ada sesuatu antara namja ini dengan sooyeon!!!” pikir yoona menginterogasi.

“sangat lama” jawab taeyeon singkat.

“mmm, bolehkah aku bertanya banyak tentang teman kalian itu?” kata donghae dengan tampang penuh harap.

“silahkan… kami dengan senang hati akan menjawab!!!” ujar yoona ceplos yang langsung mendapat jitakan dari taeyeon. sedangkan donghae hanya tersenyum- senyum.

“jadi apa sooyeon itu tinggal sendirian atau dengan orang tuanya?”

“tunggu, untuk apa kau menanyakan orangtuanya? Apa kalian berdua punya hubungan?” kata taeyeon yang sudah mulai mencurigai sikap donghae.

“ Waktu itu aku melihat kartu pelajarnya, dan dibagian nama ayah dan alamat dicoret. Begitu juga dengan biodatanya ketika melamar di SMC!”

“Dia hanya tinggal sendirian di apartemen!” mulut yoona berbicara refleks sedangkan taeyeon langsung memalingkan pandangan tidak setuju ke arah yoona karena temannya itu terlalu terbuka untuk ukuran namja yang baru dikenali.

“aaahhhni. Sooyeon hanya tinggal sendirian untuk sementara saja…” jawab taeyeon mencoba memperbaiki ucapan yoona barusan agar donghae tidak terlalu posesif menanggapi sooyeon yang tinggal sendirian.

“maksud sementara…?”

“begini, menurut perkiraanku dia tinggal sendirian itu, tidak akan lama! Nanti juga akan tinggal lagi dengan keluarganya. ”

“memangnya keluarganya kemana???”

“mianhe. Kami tidak dapat menjelaskan tentang hal itu!” ujar taeyeon mencoba menutupi fakta dibalik rahasia.

“baiklah kalau memang itu rahasia. Aku juga tidak akan memaksa kalian menceritakan semuanya!” ujar donghae melemas karena merasa sudah menyerah.

“tapi, bisakah kalian beritahu alamatnya?”

Taeyeon memandang penuh curiga kepada donghae.

“kalau kami tidak mau memberikan apa yang akan kau lakukan?”

“yak, taeyeon berikan saja. Tidak ada salahnya kan??” protes yoona.

“sebenarnya maumu apa? Ingin mengidentifikasi sooyeon? Mendekatinya? Atau semacamnya?”

Donghae bingung ingin menjawab apa. Dia sendiri saja masih belum tahu kenapa dirinya sedari tadi terus bertanya- tanya tentang sooyeon.

“ada urusan penting!” jawab donghae ketus.

“maksudmu kalian punya masalah?”

“ahni.”

“geuttae?”

“yang jelas urusan penting. Jadi aku harus menemuinya!”

“owh, kalau begitu cari saja rumahnya sendiri. Kami tidak akan pernah memberi tahumu alamat apartemennya! Aratso???!!!”

Taeyeon pun menyandang tasnya lalu berdiri dan bersiap untuk pergi.

“shilley hamnida!!!”

Yoona yang masih duduk sambil menatap kagum kepada donghae sedari tadi, akhirnya ditarik paksa oleh taeyeon.

*****

Malam itu, sooyeon yang tengah bermenung di depan jendela disentakkan oleh ketukan pintu dari luar. Ketika di bukanya pintu, ternyata yang datang adalah jung il woo.

Dengan sangat malas sooyeon terpaksa membukakan pintu dan mempersilahkan il woo mengutarakan maksudnya. Meskipun hal itu sudah bisa di tebak sooyeon.

“masih belum menyerah ternyata!” sooyeon bergumam, dan ia yakin appanya pasti mendengar.

“mungkin malam ini, besok,dua lagi, atau seminggu kedepan kau masih bisa bertahan. Tapi, untuk masa depanmu sendiri apa kau yakin, kau bisa tanpa pekerjaan?”

Sooyeon langsung tersentak dengan ucapan itu. Dari mana il woo tau ia baru saja dipecat??

Segenap kemudian, kecurigaan kepada appanya mulai bercokol di benak sooyeon. Ia yakin pasti appanya yang meminta presdir choi agar memecatnya. 90% permintaan appanya atau bagian dari rencananya yang tidak pernah habis. 5% keterpaksaan presdir choi. Dan 5% lagi mungkin memang nasibnya.

“aku bukan seseorang yang seperti dirimu!” jawab sooyeon singkat.

“…” il woo masih ragu untuk memahami hal itu.

“sadarkah kau siapa orang yang tengah berbicara denganmu ini?”

Il woo menarik nafas panjang, karena merasa terlalu hina dicercai hal- hal tajam oleh darah dagingnya sendiri.

“aku orang yang mendatangkanmu kedunia ini dan…” belum sempat il woo meneruskan tapi sooyeon sekali lagi menjawab dengan ketus dan tajam.

“menghianati hye ri!”

Il woo terpaku mendengarnya. Baginya sooyeon yang sangat sering membicarakan tentang ia yang menghianati hyeri itu, hal itu sungguh diluar kendali. Sooyeon hanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga orangtuanya, makanya dengan mudah ia melontarkan kata- kata menghianati itu.

Il woo mengangkat tangannya. Ia yang tengah diperdaya oleh emosi dan kemarahan, sehingga berniat menampar sooyeon lagi.

“apa??? Ingin menamparku lagi? Tampar saja sepuasmu, sampai aku benar- benar menderita akibat kelakuanmu yang sungguh tidak bertanggung jawab!”

Il woo menurunkan tangannya. Ia tersadar kalau orang yang akan ditamparnya sekarang ini, tadi sore juga sudah ia tampar.

“untuk kali ini kau ku maafkan. Tapi, lain kali ku mohon jangan lagi kau pernah mengatakan aku menghianati eommamu itu. Sungguh tidak itu yang terjadi sebenarnya. Percayalah. Ku jelaskan sekarang pun kau juga tidak akan percaya. Tapi, satu hal yang harus kau ingat, perceraian terjadi bukan karena penghianatan di salah satu pihak saja, tapi keduanya sama- sama saling menghianati! Makanya bercerai cara yang paling tepat untuk memaafkan penghianatan yang dilakukan oleh kedua pihak tersebut!” ilwoo mencoba menjelaskan berharap sooyeon tidak salah paham lagi. Karena 2 tahun adalah waktu yang sangat lama ketika membuat masalah ini semakin berlarut- larut.

Sooyeon masih larut dalam pertanyaan di seluruh benaknya. Itu berarti hye ri juga berselingkuh?!

“jangan mentang- mentang eommaku sudah pergi, jadi kau bisa seenaknya mengubah fakta itu!” sooyeon masih berusaha membela Hyeri, dan tidak sedikitpun sikapnya menunjukkan rasa percaya atas penjelasan singkat appanya tadi. Meskipun sekarang setengah benaknya dengan yang lainnya saling beradu ideologi untuk mempercayai fakta yang baru saja diucapkan il woo.

“yang pasti sekarang aku sudah menjelaskan. Dan kau juga sudah tahu apa fakta sebenarnya. Ku tunggu kau sampai seluruh hatimu bersatu untuk mempercayai kenyataannya. Ku tunggu kau pulang kapan pun itu. Pintu rumah akan selalu terbuka untukmu!”

Kemudian ilwoo pergi tanpa bisa menarik- narik lagi tangan sooyeon seperti biasanya saat ia menyuruh ttalnya itu pulang. Il woo memeluk ttalnya yang mungkin masih setengah tidak percaya dengan kenyataan bahwa eommanya juga seorang penghianat.

*This pain I’m going through

Please forgive me

If I need ya like I do         

Please believe me

Every word I say is true

Please forgive me I can’t stop to let  you ran away…  (* il woo pov )

*****

Donghae pov

Hm, pagi ini sepertinya begitu cerah. Oh tuhan, semoga hari ini aku mendapatkan petunjuk baru yang jauh lebih sukses dari yang kemarin- kemarin. Aku berdiri di depan cermin sambil memandangi diriku sendiri yang sepertinya sudah sangat rapi untuk mengawali rutinitas biasa. Ku pandangi cermin yang menampakkan diriku itu. Betapa sempurnanya orang yang ada di dalam cermin itu. segenap aku merasa orang yang paling tampan di cermin itu. Padahal hanya diriku yang terlihat di dalam pantulan cermin. Tubuh yang tergolong tinggi sedang. *maksudku diatas 170cm. Wajah yang sempurna. Tampang sangat mendukung untuk seorang pria idaman. Tubuh yang juga lumayan berotot. Pokoknya semuanya kuanggap sempurna ketika ku pandangi diriku.

Kemudian aku meraih dompet di dalam saku celanaku dan mengambil foto sooyeon. Ku harap kau adalah takdirku. Tunggulah aku yang selalu mencari siapa dirimu. Aku juga tidak akan peduli nantinya seperti apa asal- usulmu. Yang jelas sekarang aku ingin tahu dan perasaan ku tidak akan pernah berubah. Tidak peduli kau itu siapa? Yang jelas hanya kau pandangan pertama yang menempati seluruh ruang dihatiku. Banyak pandangan lainnya yang sudah bertemu denganku, tapi sepertinya tidak ada yang sepertimu!!!

Aku pun jadi bersemangat untuk beraktifitas. Hari ini aku berinisiatif akan masuk kantor SDS sebentar kemudian meminta izin dan berpetualang mencari tahu tentang cinta pada pandangan pertamaku.

Aku sudah gila! Seperti biasa, saat semangatku tengah berkobar- kobar, malaikat hitam selalu membisikkan hal itu.

***

 

 

Author pov

“tok tok tok!” pagi itu taeyeon dan yoona sudah berdiri di depan pintu apartemen sooyeon. Mereka memilih menjemput sooyeon terlebih dahulu, karena ada segudang cerita yang harus diketahui oleh sooyeon. Terutama tentang donghae semalam.

Menit kelima, tidak juga ada reaksi dari ketukan yang dibuat taeyeon dan yoona. Menit kesepuluh, hasilnya sama.

“ugh, kemana sooyeon? Apa dia sudah pergi?” tanya taeyeon.

“entahnya. Seingatku ia selalu pergi jam segini! Oh iya, kita hubungi saja handphonenya!” ucap yoona.

Setelah, taeyeon dan yoona berulang kali menelfon, hasilnya nihil. Jangan kan diangkat, tapi baru saja tersambung sudah terdengar suara dari mailbox kalau handphone yang dihubungi tidak aktif.

“bagaimana ini? kemana dia kira- kira??!! Aku yakin sooyeon tidak akan pergi sedari tadi. Mana mungkin di pagi buta ada orang yang berangkat ke sekolah!”

“mmm, lalu tidak mungkin juga kita menunggu disini!”

“hm, baiklah kita pergi saja ke sekolah. Mungkin cerita itu bisa kita mulai saat jam istirahat di sekolah nanti!” ujar taeyeon.

“baiklah. Ku yakin nanti dia juga akan datang ke sekolah!”

*****

Sooyeon pov

Taeyeon, yoona mianhe. Maaf aku tidak menghiraukan panggilan kalian. Aku yang sejak malam  terus mematung di atas tempat tidur, sibuk dengan perdebatan antara fakta yang dilontarkan appa semalam. Setengah hati tidak percaya kalau eomma juga berselingkuh. Tapi setengah hati yang lain masih berada dalam zona galau. Tapi, jiwaku sendiri sepertinya sudah sepenuhnya percaya akan hal itu. semua itu fakta, tidak bisa dipungkiri lagi.

Sejak malam, aku terus dihantui oleh rasa penyesalan yang sangat dalam. Semua yang telah kulakukan mulai ku sesali perlahan- lahan. Tapi, entah kenapa mulutku selalu enggan untuk mengungkapkannya, apalagi untuk meminta maaf kepada appa. Mulutku yang jahat ini, malah terus ingin membela eomma yang sudah mati itu. sedangkan kakiku malah terus berdebat dengan perasaanku. aku sebenarnya ingin pulang ke rumah appa, tapi kakiku tidak ingin melangkah secepat itu. entah kenapa, sepertinya masih ada serpihan hati jahat, yang menahanku agar tidak kembali secepat ini. agar aku mencari- cari kesalahan appa lagi. Sedangkan tubuhku sendiri, malah sengaja memberatkan langkahku untuk pulang. Akhirnya, inilah aku. tidak bisa mengendalikan perasaan dan jiwaku. Lembaran perasaan jahat masih tidak setuju dengan fakta yang pastinya tidak bisa dihindari lagi.

Untuk hari ini, aku terpaksa tidak masuk sekolah. Tadinya aku sudah menelfon ke sekolah kalau hari ini aku tidak enak badan. Meskipun bukan hanya tubuhku yang sakit, tapi hatikulah yang jauh lebih sakit. Semua fakta- fakta jahat itu, mendorong tubuhku untuk bereaksi dengan menunjukkan rasa sakitnya. Seperti biasa, yang pertama kali dilanda rasa sakit adalah bagian kepalaku. Entah kenapa bagian yang sering menjadi tempat peraduan pendapat itu, selalu jadi bagian yang menderita karena saking sakitnya.

*****

Donghae pov 

“presdir, jadi bolehkah aku meminta izin untuk hari ini saja?”

“waeyo? Memang ada apa?”

“ada urusan penting yang harus ku selesaikan!” ujarku tanpa mengutarakan maksud sebenarnya. Tapi tetap saja penting karena ini masalah hati.

“owh, kalau boleh aku tahu, urusan apa itu? masalahnya sekarang kita sangat sibuk disini!”

“mianhamnida presdir. Aku tidak dapat memberitahu. Tapi, hanya hari ini saja, ku harap urusan ini juga cepat selesai!”

“mmm, gwenchana!”

Yessss.. aku bersorak girang di dalam hati. Soo yeon tunggu aku, akan cari tahu tentang dirimu! Setelah itu, siapkanlah tempat untuk hatiku!!!

“gomawo presdir!!!”

Aku pun segera berlali ke tempat parkir untuk mengawali petualangan yang mungkin paling menyenangkan hari ini.

Tapi, sebelumnya aku memilih menghampiri makam appa yang sudah pergi beberapa tahun silam.

Aku tiba di pemakaman umum yang sangat tenang itu. tidak ada satu pun orang yang terlihat sedang menjenguk keluarganya. Ku letakkan seikat bunga di pemakaman appa. ku bersihkan rumput- rumput liar di sekitar kuburannya.

“appa, mianhe… selama ini aku sangat jarang sekali mendatangimu. Mianhe… aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri!” aku kembali tersentak akan kesedihan setelah ditinggalkan appa.

“appa.. hari ini aku terpaksa izin bekerja ,untuk mencari tahu tentang sooyeon ah yang telah membuat hatiku penasaran tingkat tinggi. Untuk itu,  mohon bantulah aku, appa. semoga nanti dia bisa menjadi yeojachingu yang baik untuk hidupku! Semoga dia bisa menemaniku. Karena terus terang aku sangat kesepian tinggal sendirian di sini!” aku mengakhiri kata- kataku sambil berharap appa yang disurga sana, mendo’akan rencanaku hari ini sukses besar.

Seperti biasa, aku tidaklah tipe orang yang berlama- lama di kuburan. Akhirnya aku pun berdiri dan berlalu dari makam appa.

Aku berjalan sambil merunduk_pelan, berharap tuhan benar- benar membantuku hari ini. kemudian ku tegakkan kepalaku, lalu kulihat lagi makam appa untuk terakhir kalinya pada hari ini. mungkin besok lain kali, barulah aku bisa sempat mengunjungi makam itu.

Kemudian, sebuah pemandangan di kuburan langsung sukses membuatku mengalihkan pandangan ke arah itu……

~tbc~

19 responses to “Slow But Sure (2nd story)

  1. aish… author aku udh lma bgt loh.. nungguin sbs part 2 ini…
    tpi gpp kok.. author sibuk aku mklumin deh.. :hahaha
    waww… pemandangan apa ya yg diliat hae… ??
    part 2 mlah tmbah pnasaran nih thor…
    cpat ya thor… next chap-nya…
    good luck …😀

  2. baru baca part 1😀 ga musti lama nunggu part 2 keluar *lucky*
    Aku suka sama ceritanya😀
    apalagi castnya :3
    ditunggu lanjutannya

    • hehe.. iya…
      tpi cast 3 cmn d part 1-2 ini, ntar smpe akhir aku sndri akn mncul d crita ini.. hehe…
      d bcorin dkit dh… hm

  3. wah, penasaran nih.. walaupun lanjutannya udah ada, tp aq g mw jdi sider^^ followback yh unnie.. ^^

    • wahh, makasih banyak loh ya, aku senang yang berpikiran seperti ini, selalu berusaha ninggalin komen,, makasih🙂
      follbak di twitter dan blog?!
      hm, unnie?
      wah, berarti kamu di bawah kelas 9 donk ya?
      aku msh kelas 9 lho, msh muda kan? *plakk hehe ^^

  4. whoa kren neh thor,,
    crita’a asik,, konflik’a jg gg brat2 amat,,
    jd mdah d phamin,,
    yea udh deh aq mau bca next part’a neh,,
    keep writing yea thor!!!
    ^^

  5. Pingback: Slow But Sure [9th Story] | Hee170晴れたHaretami·

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s