What Is That?

Author : Haretami (@HareTa_mi)

Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Kyuhyun’s Father

Genre : Family, sad

Rate : General

Length : Drabble

Disclaimer : Story and Cover JUST MINE. DON’T BE A COPYCAT AND SILENT READER.

A/N : Annyeong, author spesialis ff sad *angst* is coming!!!!😀 meskipun ff sad ku masih sangat- sangat abal dan aku ngaku- ngaku sendiri jd spesialisnya genre itu, ah.. tapi ya sudahlah. Yang penting kalian semua wajib baca ff ini. Karena ini bukan ff have fun seperti biasanya, tapi sejenis renungan untuk kita semua. Genre-nya family jadi mungkin udah bisa tebak ceritanya sebelah mana entar. Jadi, ini terisnpirasi dari film documenter yang ditanyangin guru TIK aku di sekolah. Banyak video renungan yang ditanyangkan dan sukses buat suasana belajar tik yang biasanya happy- happy aja, waktu itu jadinya malah nangis- nangis U,u *abaikan! Oke, salah satu videonya seperti gambaran ff ini. Dan sebenarnya ff ini udah lama aku buat, pas selesai belajar TIK waktu itu, terus siapnya belajar mtk dan aku langsung tulis tangan aja nih ff, tapi kertasnya sempat ilang tapi ketemu lagi makanya baru di ketik dan publish sekarang, ^^ hehe

😀 enjoy reading and please, understand me! *just leave your comment, is it difficult?*

[Dan tulisan italic adalah isi buku diary]

~~**~~

Sungai han di senja hai. Sepi, tenang, setenang aliran airnya yang bermuara kelautan. Burung- burung berkicau ria di sekitar pepohonan. Elang- elang terbang dengan ganas di atas air untuk menangkap mangsa- mangsanya yang tengah lengah di dalam sungai.

Taman di sekitar sungai yang biasanya ramai oleh pasangan- pasnagan kekasih sekarang hanya ada dua orang yang duduk di bangk taman itu. dua orang itu duduk menghadap ke arah sungai yang biasa menjadi tempat bagi mereka untuk mencari suasana tenang. Seorang presiden direktur bersama seorang lelaki yang usianya sudah memasuki kepala tujuh. Cho kyuhyun dan sang ayah. Di tengah kesibukanseorang presdir muda dengan tuntutan- tuntutan pekerjaan barunya, ia merasa terpaksa untuk menuruti keingingan seorang lelaki yang tengah duduk di sebelahnya. Tuan cho tampak sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu tenangnya di sungai han. Dengan penuh permohonan, ia meminta anaknya untuk menemaninya ke sungai itu.

“apa itu?”

Lelaki tua itu akhirnya berbuyi. Ia bertanya kepada anaknya yang tengah sibuk dengan ipad yang di genggamnya. Kyuhyun menoleh sesaat, menyadari suara sang ayah yang sudah serak menanyakan sesuatu kepadanya. Ia mengikuti arah tangan ayahnya yang menunjuk sesuatu yang ditanyakannya.

“burung gereja” jawab kyuhyun singkat dan kembali sibuk berbalas email dari client kantornya melalui ipad di tangannya.

Namun yang sang ayah yang sudah terlalu tua tampak tidak terlalu peka dengan jawaban anaknya. Meskipun bagian tubuhnya masih lengkap, masih bisa melihat, mendengar, dan berbicara, tetapi sayang ada bagian yang hilang sehingga lelaki tua itu tidak bisa lagi menangkap sesuatu dengan cepat seperti dahulunya ketika ia masih berusia muda.

“kyuhyunie, yang disana itu apa?” tanya sang ayah lagi dan kyuhyun langsung menoleh dengan cepat. Ia menatap sedikit tajam dan juga malas ke arah ayahnya.

“appa, sudah kubilang itu burung gereja!” jawab kyuhyun lagi dengan nada yang ditinggikan. Selang beberapa menit, sang ayah kembali bertanya.

“apa itu?”

“BURUNG GEREJA!” kali ini kyuhyun menjawab lebih tinggi dan ia tidak menoleh melihat appanya. Ia merasa sangat kesal dengan pertanyaan ayahnya yang sudah tiga kali selalu sama.

“kyuhyunie, yang disana itu apa?” tanya tuan cho lagi tanpa mengubris sikap anaknya yang tampak sudah kesal. Tapi, memang dasarnya orang yang sdah tua seperti tuan cho, tentu sikapnya yang kadang membuat kesal anaknya tidak bisa disalahkan. Ia sudah sangat berumur dan masa kepikunan tentu sudah menghampirinya.

“YAK APPA, KENAPA BERTANYA LAGI? SUDAH KUBILANG ITU BURUNG GERERJA, BURUNG GEREJA, BURUNG GEREJA! KENAPA MASIH BERTANYA? LAGIAN BUKANKAH APPA SENDIRI TAH ITU BURUNG GEREJA? UNTUK APA LAGI MENANYA- NANYAIKU?”

Tanpa diduga kyuhyun menjawab pertanyaan apppanya kali ini dengan perasaan berkobar- kobar, penuh emosi dan kejengkelan. Ia membentek appanya dengan kata- kata yang sangat kasar tanpa rasa bersalah sedikitpun. Kemuian ia kembali melanjutkan kegiatan di gadgetnya yang menurutnya jauh lebih penting.

Tuan cho mencoba bersikap tenang tanpa kesal sedkitpun. Kemudian lelaki yang baru saja dibentak oleh anak yang merupakan darah dagingnya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam mantel tebalnya. Ia mengambil sesuatu yang tampaknya sebuah buku. Buku harian atau yang biasanya disebut buku diari. Ia membuka lembaran demi lembaran dan kemudian menyodorkannya kepada anaknya, kyuhyun.

“baca ini” ucapnya sambil tetap tersenyum. Kyuhyun menoleh dan mengerutkan dahinya. Alisnya saling bertautan karena bingung dengan apa yang dimaksud oleh appanya sekarang.

“ayo baca,” ujar lelaki paruh baya itu lagi dan kyuhyun pun dengan perasaan terpaksa juga penarasan meraih buku kecil yg sering dibawa oleh ayahnya itu.

Hari ini anakku sudah berumur lebih dari tiga tahun. Satu- satunya anak lelaki yang kupunya dan akan menjadi kebanggaanku saat ia sudah besar nanti. Sore ini ia memintaku bermain ke sungai Han saat aku baru saja pulang dari kantor. di tengah rasa lelah yng mendera dan banyaknya pekerjaan kator yag harus kusiapkan, tapi anakku datang berlarian ke arahku. Ia menarik tanganku keluar rumah agar aku mau menemaninya bermain- main di sungai Han.

                Kami sampai di sungai han setelah beberapa menit. Anakku, kyuhyun kecil langsung turun dari mobil dan berlarian menuju taman sungai Han. Aku pun ikut turun meskipun setelah kantoran masih melekat di tubuhku. Aku duduk di bangku taman yang menghadap ke arah sungai sembari mengeluarkan koran untuk menunggu kyuhyun selesai bermain.

Ia berlari- lari disekitar sungai sambil memegang baling- baling yang dibelikan oleh ahra, kakaknya kemarin. Angin bertiap cukup kencang dan dapat memutar baling- baling yang di genggam tangan kecilnya.

“appa, apa itu?” tanyanya menghampiriku setelah keringat hasil lariannya mengucur di sekitar dahinya. Ia menunjuk sesuatu yang hinggap di depannya. Aku pun menjawab dengan tersenyum kalau itu adalah burung gereja. Kemudian ia malah bertanya lagi, lagi, dan lagi. Aku pun tetap menjawabnya sambil tersenyum hangat dan senang karena anakku memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Sampai ia bertanya sebanyak 21 kali tentang ‘apa itu’ aku masih tetap dengan senyum di wajahku karena wajahnya yang tampak polos dan ingin tahun.

Air mata yang tadinya hanya jatuh persatu sekarang mengucur menjadi aliran air yang deras sehingga membentuk aliran sungai. Air mata itu jatuh membasahi buku diari milik tuan cho. Kyuhyun menangis dengan segenap perasaan yang merasa sangat bersalah.

“appa, mianhe… jeongmal mianhe appa, mianhe!” ujar kyuhyun sambil tersedu- sedu dan langsung memeluk appanya dengan sangat erat. Tuan cho yang sudah tua itu membalas pelukan anaknya dengan rasa haru.

“mianhe appa,!” ujar kyuhyun lagi tanpa berhenti menangis.

“gwenchana!” balas tuan cho menepuk- nepuk bahu anaknya yang dari dulu sampai sekarang, sampai kapanpun, selama ia hidup, bahkan saat ia sudah mati sekalipun, ia akan tetap menyayanginya.

-END-

Jeng- jeng- jeng, *sunyi* ga ada yg nangis ternyata baca ff ini?

Yah, emang kalau gambaran ff ini mah emang ga dapat feelnya, mian ya.

Terus kalau ada typo mohon dimaklumi ^^

14 responses to “What Is That?

  1. Aah keren keren.. Tp kayaknya aku pernah deh denger cerita ini. Benar ? Intinya sama ama nie ff…

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s