Sekeras Apa Kita Terhadap Diri Kita?

Kita sering kali keras dan serius untuk merubah orang lain tanpa kita sadari bahwa selama ini kita sering memberi toleransi untuk diri kita sendiri!

kata- kata diatas adalah salah satu quotes yang aku temukan sejak aku mengalami berbagai pengalaman, membaca berbagai hal, memperhatikan sekeliling, melihat ke dalam cermin dan tepatnya ini semua aku sadari ketika kehidupan SMA berlangsung. aku tersentak saat itu, saat aku biasa melarang orang lain yang ku pikir mereka tanggung jawabku untuk melakukan hal ini dan hal itu karena aku tau kalau hal itu tidak lebih baik dibandingkan aktivitas bermakna lainnya. aku berusaha menegaskan beberapa peraturan berulang kali, melarang keras orang- orang yang berniat atau memang sudah melanggar beberapa peraturan, dan aku melakukan semua itu karena aku telah diberi tanggung jawab atas mereka.

hari demi hari berlalu, aku sama kerasnya dari awal aku diberi ‘pekerjaan’ bahkan bisa dibilang aku semakin keras dan tidak memberi toleransi atas pelanggaran apapun (tetapi tetap ada pengecualiaan dalam beberapa alasan yang logis). setelah lama waktu berlalu aku mendapati sebuah posisi ketika aku terjebak dalam suatu pemikiran. aku sampai pada sebuah situasi dimana aku membalikkan keadaan. saat aku berada di posisi mereka. saat aku bukan berada di posisi ku sekarang.

sebagaimana aku mengetahui tabiatku selama ini, aku bahkan 90% yakin kalau aku bukan berada di posisi ku yang sekarang, kalau aku sama sekali tidak pernah dibebankan sebuah tanggung jawab, maka aku akan keras juga untuk bisa mendapatkan celah diantara ketatnya aturan- aturan yang mengikat kehidupanku.

aku menyadari bahkan lingkungan dan bebanlah yang mengubah seseorang termasuk aku. jarang sekali perubahan itu datang dari niat dan kesadaran penuh seseorang. aku akui memang ada yang bisa berubah karena hatinya yang benar- benar ingin untuk terbuka tetapi hal itu tetap tidak luput dari lingkungan yang ia rasakan setiap harinya.

saat aku cukup berambisi untuk menciptakan suatu komunitas yang lebih baik itu karena aku telah diberikan tanggung jawab untuk mengingatkan anggota komunitas agar berubah. dan akan lain lagi situasinya jika aku tidak pernah diberi tanggung jawab itu, jika tanggung jawab atau pekerjaan semacam itu dibebankan kepada orang lain, belum tentu aku cukup tertarik untuk menciptakan perubahan berarti di dalam suatu komunitas yang dulu menurutku, tidak berpengaruh untuk hidupku.

aku sampai pada kesimpulan bahwa saat aku tidak memberi kelonggaran terhadap orang lain yang menginginkan zona nyaman yang senyatanya salah, maka aku 100% harus siap agar aku tidak juga memberi toleransi terhadap diriku sendiri. aku harus belajar agar aku selalu ingat untuk berpikir juga dari sudut pandang orang lain. berandai- andai jika aku jadi dia atau mereka. tidak lagi berpikir dari satu arah, tetapi segala arah dengan segala prediksi atas kemungkinan yang akan terjadi.

 

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s