[Review] Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

[Review] Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Apa yang terbayang ketika membaca judulnya? Byur, air langsung tersembur dari mulut (yang ini nggak benar),ketika aku membaca judul sebuah novel, karangan Tere Liye, penulis tersohor itu. REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU. Yang terlintas dalam pikiranku ketika itu adalah sebuah judul yang melankolisnya minta ampun, dengan cerita cinta klasik yang tidak tertahankan dan kuakui saat itu aku tidak akan tertarik dengan cerita cinta klasik, cinta di pedesaan, dengan bumbu- bumbu tradisonal dan bahasa yang melankol.

Haha. Ternyata tidak. Aku salah. Keliru besar. Aku baru membaca satu lagi novel bagus dari semua novel hebat Tere Liye akhir- akhir ini. Terlambat memang. Ketika aku mendapatkan novel ini secara cuma- cuma –tepatnya novel warisan kakak kelas. Novel ini berbeda dari novel Tere Liye yang sudah- sudah, yang sebelumnya aku baca, seperti Negeri Para Bedebah yang kerennya minta ampun dan saking terpananya aku dengan Tere Liye merangkai cerita modern penuh konspirasi berbumbu pengetahuan tentang dunia ekonomi itu aku jadi tidak bisa membuat review novelnya (alasan). Bahkan novel Tere Liye yang satu itu (Negeri Para Bedebah) mampu menyemburkan sihir dan membuatku mulai membuka diri seputar ekonomi. Sedikit cerita, di sekolahku, dengan kurikulum baru, siswa IA juga diwajibkan belajar ekonomi, yang namanya itu lintas minat. BAH. Siapa yang nggak ngutuk- ngutuk coba? Mana tahu aku belajar ekonomi, ngafal hal- hal rumit yang menurutku waktu itu sama sekali nggak ada gunanya, terlebih buat siswa IA. Huft. Tapi dengan mudahnya aku berubah. Labil. Tapi itu cukup perubahan yang bagus. Aku merubah pandanganku. Aku menyadari bahwa ilmu ekonomi itu juga perlu sekalipun lo anak IA. Bahkan di negara- negara maju, semisalnya Yahudi mereka juga mengajarkan pelajaran ekonomi dan bisnis untuk semua siswa.

Novel ini (Rembulan Tenggelam Di Wajahmu) berkisahkan tentang kehidupan Ray. Rehan Raujana. Ia mengubah namanya hanya menjadi Ray dan berusaha melupakan nama lamanya, nama pemberian orang tuanya, demi melupakan masa lalunya yang menurutnya terlalu sengsara terlebih ketika ia menghabiskan 16 tahun hidupnya di panti.

Di bagian awal novel ini akan cukup membingungkan karena alurnya maju mundur, banyak flashback. Bagi yang sudah biasa membaca novel hal ini tidak akan memusingkan. Di bagian awal dikisahkan tentang Ray (Rehan) yang katanya seorang pemegang kongsi bisnis besar dan sedang di rawat di sebuah rumah sakit. Ketika Ray tersadar, ia mendapati ‘seseorang berwajah menyenangkan’ di dekatnya, dan orang tersebut berusaha menariknya ke dalam masa lalunya, memberitahunya potongan- potongan mozaik penting yang tidak akan pernah diketahuinya jika ia tidak bertemu orang berwajah menyenangkan itu, dan menjawab pertanyaan- pertanyaan hidup yang selama ini telah keliru dalam pikirannya. Menyederhanakan hal rumit dengan satu rumusan bahwa semua urusan adalah sederhana.

Suatu hari ia memutuskan kabur dari panti karena ia tidak tahan dengan penjaga panti yang menurutnya sok suci itu, yang baru saja kehilangan istrinya, yang selama ini memohon donatur kepada para dermawan dan dengan teganya uang donatur tersebut digunakannya untuk biaya naik haji. Meskipun pada akhirnya, si penjaga panti tidak jadi berangkat haji dan menggunakan seluruh tabungan pembiayaan hajinya untuk operasi ginjal bagi Ray.

Hal itu berawal dari suatu siang nan terik ketika Rehan menemui teman satu pantinya, teman satu kamar, teman yang pernah ia lindungi dari pecut rotan penjaga panti karena ia tahu tubuh temannya tidak akan kuat menahan rotan seperti tubuhnya yang sudah biasa kena pecut, Diar. Ia lihat anak itu sedang menjaga toilet di terminal. Ia sempat merogoh uang di kotak toilet yang di jaga Diar.

Ketika itu seorang supir angkutan menggunakan toilet umum untuk mandi di siang nan panas. Rehan melihat ada celah untuk mecopet celana sang supir dari bagian pintu toilet yang tidak utuh sampai ke atas. Diar sempat mencegah bahkan berusaha sebisanya mencegah Rehan untuk mencopet uang setoran selama seminggu sang supir yang sedang bermandikan air segar itu.

Dengan sigap dan tampak sudah terlatih, Rehan menarik celana yang tersangkut itu dan melarikannya beserta isinya. Sang supir menyadari celananya di copet, ia sempat keluar toilet tanpa busana, hanya sabun- sabun mandi yang menyelimuti tubuhnya, seising termeninal sempat tercengang, bingung menahan tawa melihat pemandangan itu.

Tidak lama setelahnya, terjadi kekeliruan besar. Diar tertuduh. Keramaian yang tidak tahu detil cerita malah ikut menghajar Diar. Tidak ada celah bagi Diar untuk mengungkapkan kebenaran. Keselahan ditujukan padanya. Ia babak belur dan setelah beberapa saat, beberapa orang baik nan cukup peduli melarikannya ke rumah sakit.

Di saat itu, Rehan tengah merayakan kemenangannya. Atas pencopetan yang cukup menguntungkan baginya siang itu. Terlebih setelahnya ia juga menggandakan uang tersebut dengan berjudi dan ia menang bertubi- tubi. Namun sayangkan, ia lupa akan pepatah bahwa semakin tinggi pohon maka semakin kuatlah angin yang ingin merobohkannya. Pohon tersebut seharusnya melebarkan akar- akarnya, menguatkan cengkraman ke dalam tanah. Tetapi tidak bagi Rehan. Ia lupa. Terlena akan kebahagian yang belum tentu abadi itu. bahkan bisa di bilang keberuntungan- keberuntungan yang diperolehnya hanyalah sebuah kebetulan yang sudah ditakdirkan terjadi hari itu.

Malam itu ia ditusuk dengan belati. Sekujur tubuhnya berdarah dan beruntung ada yang melarikannya ke rumah sakit. Di rumah sakit, si penjaga panti melihat dua anak pantinya yang terkapar, dengan sebab yang berbeda tetapi saling berkaitan. Diar tersadar lebih awal dengan kondisi sakaratul maut. Tampak tidak ada harapan baginya untuk menghembuskan nafas lebih lama lagi. Ia sempat menanyai keadaan Rehan kepada penjaga panti begitu mengetahui bahwa temannya itu sekarang juga terbaring di seberangnya. Ia juga menceritakan bahwa Rehan pernah mengakui hal yang tidak pernah di lakukannya kepada penjaga panti, perkara Tasbih Mekkah penjaga panti yang putus oleh Diar. Cerita- ceritanya mampu melunturkan debu- debu yang selama ini bersemayam bahkan sulit diterbangkan di hati penjaga panti. Ada pintu yang terbuka. Semburat cahaya akhirnya menembus ruang yang selama ini selalu gelap. Pertanyaan hidupnya terjawab. Si penjaga panti menggunakan uang hajinya untuk operasi ginjal Rehan di Ibu kota.

Rehan tersadar dari ruangan sebuah kamar rumah sakit. Ruangan yang berbeda. Tidak dikenalinya dan tampak bahwa ruangan itu bukan ruangan seperti di rumah sakit dekat kotanya. Ia lihat ke sekeliling dan ternyata ia berada di ibu kota. Satu hal yang terpikir olehnya, ia sudah berada jauh dari kota lamanya, kota 16 tahun hidupnya dilanda mendung, sengsara, dan ketidak adilan sang penguasa nasib. Ia tidak sempat memikirkan siapa yang telah membiayai operasinya. Yang terpikir hanyalah bahwa ia akan melupakan kenangan buruk, menutup catatan kelam, memulai hari di ibu kota.

Selama beberapa tahun, ia tinggal di Rumah Singgah. Rumah yang sepertinya menjadi persinggahan bagi mereka yang bernasib sama seperti Ray (ketika itu ia tidak lagi menyebut dirinya Rehan). Disana ia bertemu Natan, Ilham, si kembar Oude dan Ouda, dan bang Ape pemilik rumah singgah. Ia temukan secercah kebahagiaannya. Teman baru, keluarga baru, bahkan baginya mereka lebih dari sekedar keluarga.

Namun sayang, Ray terlalu emosi tanpa bisa mengendalikan pikirannya yang berpikir bahwa luka di balas luka. Darah di balas darah. Sebuah pertengkaran bertubi- tubi dengan preman pasar yang telah merenggut mimpi teman- teman rumah singgahnya, keluarga barunya, membuatnya memilih meninggalkan itu semua.

Kala itu ia sudah 19 tahun bahkan hampir mendekati usia 20 tahun. Memulai kehidupan lagi dengan menyewa sepetak kamar murah di bantaran kali yang pesing oleh bau- bau busuk. Sehari- harinya dihabiskan hanya dengan mengamen dari satu gerbong ke gerbong lain. Sampai pada suatu malam ketika hujan mengguyur gulita, ia bertemu Plee.

Kisah baru kembali tertuang. Cukup lama ia berteman dengan Plee yang sudah kepala empat tetapi tetap tidak terlihat setua usianya. Plee tinggal di dekat tempat tinggal Ray, sebuah rumah besar 7 kamar yang sewanya murah karena letaknya yang berada di sekitar pemukiman rendah. Ray dan Plee bercerita banyak sampai pada suatu malam cerita mereka bukanlah cerita soal kehidupan Ray seperti biasanya. Cerita perihal rencana besar. Rencana kejahatan.

Plee mengajak Ray yang menurutnya cukup tangguh dan lincah memanjat untuk merampok di sebuah bank internasional pada malam perayaan hari raya, hari kemenangan, hari dimana menurutnya pada pegawai penjaga mengutuk- ngutuk atasannya yang tidak berhati mulia karena tidak memberi cuti, hari dimana menurut mereka penjaga keamanan akan lengah, hari dimana semuanya terjadi dan berakhir dengan dua kesalahan fatal. Gagal sudah rencana besar mereka. Menumpahkan tetasan- tetesan darah yang kian melimpah.

Mereka merencanakan perampokan sedetail mungkin dan karena kesombongannya, Plee gagal. Ia ceroboh dalam hal kecil. Malam itu mereka berhasil kabur ke rumah besarnya. Ia mendapati Ray yang menggigil dengan luka tembak di pahanya. Ia siapkan peralatan medis, mengeluarkan sendiri peluru dari paha Ray, dan menjahitnya asal. Seperti yang pernah dilakukannya beberapa tahun silam.

Pagi menjelang, ketika takbir hari kemenangan berkumandang dari musolla dekat rumahnya, sirene polisi terdengar mendekat. Disaat itu, ia menemukan suatu potongan kertas koran dari dekat saku celana Ray, pemberitaan tentang kebakaran komplek perumahan beberapa tahun silam yang memang disengaja. Ia tercengang. Otaknya dengan cepat berpikir dan mengkalkulasikan segala kemungkinan. Ia sampai pada kesimpulan bahwa Ray adalah salah satu korban dari kejahatan masa lalunya, yang sampai detik ini masih sangat ia sesali.

Demi menebus kesalahan lamanya yang memang tidak akan mungkin tertebus oleh perbuatan apapun, ia menyerahkan diri, mengangkat tangan, dan mengkamuflase kenyataan perampokan tadi malam. Ia mengaku merampok seorang diri, menembakkan peluru di pahanya agar seolah- olah ia adalah seorang Ray. Ray disembunyikannya di kamar rahasianya. Ia digiring ke kantor polisi dan dijatuhkan hukuman mati.

6 tahun berlalu begitu cepat. Kini Ray kembali seorang diri. Usianya sudah 26 tahun. Namun tidak dengan dirinya. Tidak ada perubahan berarti. Tetap seorang pengamen berwajah lusuh yang berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Pengecut. Tidak berani ia menampakkan dirinya di hari eksekusi Plee.

Ia memutuskan untuk kembali ke kotanya. Kota yang menurutnya kota sial itu. kota 16 tahun hidupnya sengsara di panti asuhan dengan penjaga panti sok suci. Ia tiba di kota kelahirannya menaiki kereta pagi karena menurutnya, lebih pagi lebih cepat dan itu lebih baik. Ia sampai di stasiun dalam keadaan lapar. Di liriknya sebuah tempat makan gerbong kereta yang tampaknya cukup untuk kantongnya. Ia memilih bangku di pojokan agar matanya bisa lebih leluasa memandang ke luar.

Dan disanalah pertemuannya dengan seorang bidadari jelita, yang menjadi cinta pertama dan terakhir baginya. Ketika ia kembali ke kota kelahirannya, ia lihat sudah banyak perubahan dari kota itu, pusat- pusat perbelanjaan tersebar dimana- mana, jalan- jalan diperbesar, taman- taman kota tampak semakin rindang. Kotanya berubah. Banyak pembangunan dimana- mana dan itu memberi kesempatan bagus baginya. Ia mendapat perkerjaan sebagai buruh dalam pembangunan suatu gedung berlantai 18.

Ray yang cermat dan pembelajar yang baik ketika itu bekerja cukup bagus sampai akhirnya ia mendapat promosi sebagai mandor junior. Kemampuannya kian berkembang. Ia terus mendapat promosi dan itu semakin meningkat. Terlebih ketika ia juga berhasil mendapatkan gadis incarannya. Perjalanan panjang yang terasa benar- benar singkat itu mengantarkannya menjadi pemilik kongsi bisnis terbesar, imperium bisnisnya menggurita beranak pinak tiada henti.

Namun ketika itu, saat berita seputar perkembangan bisnisnya tersebar di koran- koran, ketika popularitasnya menanjak tiada tara, tiada musuh yang dapat dikibasnya, hidupnya terasa hampa. Segala pekerjaannya terasa kosong. Kekayaan yang menggunung tiada mampu menemani sepinya. Sejak kematian istrinya, ia justru bekerja semakin gila demi mengisi setiap harinya. Namun semua itu berarti kosong saat tidak ada yang mengisi ruang kosongnya.

Bisnisnya sempat melonjak tiada henti dan juga sempat turun sedalam samudra biru. Naik dan turun. Bak putaran roda kehidupan yang telah dilukiskan langit. Diusia 60 an, disanalah semua cerita terurai. Ia mendapat kesempatan untuk berkelana dengan masa lalunya, membuka lembaran- lembaran mengejutkan yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Di sebuah rumah sakit yang tengah memberinya perawatan atas berbagai macam penyakit yang menghambat aktivitasnya, ‘orang berwajah menyenangkan’ menjelaskan segalanya. Menjawab 5 pertanyaan terbesar dalam hidupnya; apakah cinta itu? apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?

Dan terakhir, hal menarik yang menjadi ciri khas cerita ini adalah kata- kata rembulan itu sendiri. Ray punya kisah tersendiri bersama rembulan. Pertama kali ia hanya bisa memandang rembulan dari teras panti asuhan, beranjak ke atap rumah singgah, semakin tinggi, ia bisa menatap dari lantai tingkat 18 dan terakhir dari lantai teratas, lantai ke- 40 (kalau aku nggak salah), lantai tempat gedung tertingginya dibangun, gedung tertinggi di ibu kota, gedung dimana ia bisa lebih dekat bersama rembulan.

 

Moral Value : Tuhan itu maha adil. Itu pasti. Tidak terbantahkan. Dengan ukuran manusia sekalipun. Saat kita merasa hidup kita terlalu menyedihkan, sengsara, dan benar- benar merana maka ingatlah, pandangilah langit, masih ada janji- janji kebahagiaan diantara itu semua. Dan saat hidup kita sesak oleh kelebihan, limpahan harta, kesenangan duniawi maka ingatlah kita jauh dari kata beruntung. Banyak nyawa yang tidak seberuntung kita yang cendrung menyia- nyiakan anugrah itu.

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s