Pelajaran Pas Liburan [Life Review]

Ini adalah masa liburan gue yang cukup berbeda secara objek dari biasanya. Kalo biasanya gue liburan di rumah (cuman di rumah sih) alamat pastinya kamar tepatnya di depan laptop kira- kira 80% ato nyaris 90%, sekarang tetap di depan laptop sih tapi cuman 40%. Selebihnya di ruangan ber-AC. Tunggu, jangan mikir kalo gue kerja part time di Mac-donald ato CFC. Enggak, gue tepatnya di rumah sakit. Tempat yang kadang- kadang bikin gue mikir kenapa namanya nggak rumah sehat biar orang yang datang jadi sehat dan bukannya malah sakit karena pusing dan setres ngurusin administrasi, diwarnai (di-abu-abu-i) dengan petugas yang nggak friendly plus udah tua. Oke. Itu cuman menurut gue.

Gue dapat inspirasi dari tempat itu.

“jangan pikirkan apa yang tidak kamu miliki dari orang lain tapi pikirkanlah apa yang tidak dimiliki orang lain darimu.”

Disana gue dapat pelajaran hidup yang cukup berharga yang belum tentu gue dapatin kalo gue cuman di rumah dan nongkrong di RPW kaya liburan SMP dulu ato ke gramed borong novel (cuman novel) terus nyampe di rumah nggak keluar- keluar dari kamar.

Di rumah sakit itu, khususnya tempat radioterapi, pas gue nemenin nyokap gue untuk radio terapi dari senin sampe jum’at, ada semacam palu yang mengetuk hati gue, membalikkan kesadaran gue pada kenyataan yang selama ini gue butakan. “Gue harusnya lebih bersyukur,” “selama ini seharusnya gue nggak merasa yang paling menderita diantara orang lain, padahal kenyataannya bukan gue yang sakit.” “seharusnya gue juga melihat ke bawah, nggak melihat apa yang harus gue miliki melulu.” “seharusnya seharusnya gue berbahagia masih bisa sekolah, di tempat favorit, dengan teman- teman yang baik semua,””seharusnya….. seharusnya….”

Well, di sana banyak orang yang tidak seberuntung gue. Banyak! Bisa dikatakan begitu. Setiap penyakit yang mereka derita memberikan teguran dan tendangan buat gue. Contohnya saja, seorang anak umur 5 tahun yang harus kehilangan satu matanya karena kanker di belakang bola matanya. Seorang ibu yang anaknya masih kecil tapi sekarang dia hanya membekam di kursi roda, nggak kuat jalan, yang ini bukan karena ada kanker di kakinya tapi kanker di bagian wajahnya, membuat bibirnya sedikit kesamping dan ia kesulitan untuk bicara apalagi makan. Kemudian seorang anak yang kurang lebih seusia gue, cowok, kanker tenggorokan, dia pake masker dan kata nyokap gue –hasil cerita- cerita dengan bapaknya, bagian lehernya di bawah mulut udah berlobang karena operasi, dan naasnya dia udah berhenti sekolah. Ada lagi anak SMP, cowok, mirip adik kelas gue di SMP, tumor otak. Dia sih masih sanggup jalan tapi tiap ngeliat dia jalan, gue nggak bisa nahan untuk nggak kasihan, dia jalan sambil megangin kepalanya dan matanya selalu berkunang- kunang.

Terus, ada lagi ibuk- ibuk yang mungkin baru 27an ato 30 an kena kanker yang katanya sulit disebutkan namanya, katanya kanker yang jarang, nggak mainstream seperti kanker servis dsbnya. Kebanyakan sih emang yang gue temui di tempat itu orang- orang yang sudah berumur dan udah tamat sekolah. gue sih awalnya biasa aja nanggapin keadaan ruangan radioterapi yang isinya yang udah tua- tua semua. Tapi beberapa jam gue disitu, gue baru tahu ternyata cukup banyak anak- anak, remaja, yang kena kanker, yang seharusnya sekarang lagi libur kaya gue, yang seharusnya bisa tetap lanjutin sekolahnya, yang seharusnya tidak dibebankan dengan penyakit diusia sedini itu, yang seharusnya masih punya masa depan seperti yang mereka impikan.

Gue tahu di dunia ini nggak ada yang pernah minta agar ia kena kanker apalagi demi mencari perhatian atau mendramatisir keadaan seperti di sinetron- sinetron yang sering nongol di layar kaca indonesia. Nggak ada. Penyakit itu emang cobaan. Memang sih kebanyakan kanker berasal dari kebiasaan memakan makanan yang tidak sehat (makanan cepat saji, makanan berlemak jahat, makanan berpenyedap, dan makanan pabrik lainnya) tetapi bagaimana dengan kanker yang muncul begitu saja? Kan nggak semua kanker itu disebabkan oleh faktor makanan? Apakah anak umur 5 tahun selama 5 tahun nonstop makan makanan tidak sehat berpenyedap dan tiba- tiba setelah umur 5 tahun zat-zat kimia langsung mengumpul menjadi kanker? Secara logika enggak kan.

Entahlah, untuk yang satu itu mungkin gue tanya dulu pada dokter yang disana, penyebab kanker mata itu. Tapi dari kebanyakan pasien disana, seperti informasi yang gue korek, kebanyakan yang menderita kanker yang disebabkan oleh pola makan tidak baik itu adalah orang dewasa. Karena mereka udah dewasa dan udah terlalu lama mengidap makanan tidak sehat barulah kanker itu muncul. Lagian penumpukan zat- zat kimia hingga bertransformasi menjadi kanker jahat rasanya memang butuh waktu lama deh. Berpuluh- puluh tahun. Oke, skip aja deh, soal pelajaran kanker ini gue nggak pake referensi, cuman nebak- nebak.

Dari situ gue cuman bisa menyimpulkan bahwa segala yang ada di dunia ini dalah setara. Gue jamin tuhan itu 100 persen adil. Tinggal cara pandang dan sudut pandang relatif kita yang harus kita ubah, bahwa setiap orang, setiap keluarga itu punya masalah dan cobaan. Tingkat masalah seseorang itu berbanding dengan kemampuan dan kelebihan yang ia miliki.

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s