Abstraksi dan Objektif

 

-_-

Abstraksi sendiri berasal dari kata abstrak. Kalau dimisalkan ke dalam sifat seseorang, maka orang yang abstraksi adalah orang yang suka dengan hal- hal baru. Biasanya orang tipe ini tidak terlalu berlarut- larut dengan masa lalunya, entah itu masa lalunya sedih atau bahagia sekalipun. Yang penting baginya adalah ia bergerak ke dunia baru dan selalu mengupayakan gaya hidup yang lebih baik.

Tipe kehidupan social yang dijalani orang abstraksi ini cendrung random, tidak terlalu memihak ke beberapa kelompok dan lebih mengutamakan kenal dengan banyak orang dari berbagai macam daerah, pekerjaan, sifat dan semacamnya. Meskipun ia hanya mengenal dan berinteraksi dengan orang- orang tersebut secara umum, tetapi baginya itu lebih utama dari pada ia hanya berinteraksi dengan orang- orang yang sama dari hari ke harinya. Ia tipe yang mudah bosan dengan sesuatu hal. Hal inilah yang selalu mendorongnya untuk mengutamakan mengenal orang baru daripada pada orang- orang lama yang sudah pernah ia ketahui.

Disatu sisi, orang abstraksi ini juga selektif dalam berbagai hal, meskipun ia suka dengan orang baru, tapi ia juga akan berusaha menjauh perlahan- lahan jika kenalannya membawa aura kurang baik untuk hidupnya. Namun terkadang, hal yang terjadi di lapangan berbeda dengan sifat alamiah orang abstraksi yang cendrung dikatakan sosialis. Dikarenakan selektivitasnya terlalu dominan, ia seolah- olah tampak sebagai sosok yang subjektif dimata orang lain. Padahal sebenarnya yang sedang ia lakukan adalah secara objektif, bagaimana ia menyeleksi kegiatan dan interaksinya yang bermanfaat saja. Dan yang pasti ia adalah orang yang netral.

Tentang objektivitas, yang berasal dari kata objek yang berarti sesuatu yang berlandaskan objek itu sendiri, orang tipe ini melihat kepada konteks suatu hal. Dalam dunia sosial, orang- orang objektif melihat kepada efek positif dari interaksinya. Ia bisa saja membayangkan, jika ia berinteraksi dengan seorang pengemis, maka efeknya ia akan lebih bersyukur atas kehidupan yang dia miliki. Atau jika ia berinteraksi dengan orang- orang yang pemikirannya terlalu liberal dan westernis, bisa saja ia mudah terpengaruh oleh isi pembicaraan si lawan bicaranya, maka dalam hal ini ia akan cendrung mengurangi dan menjauh. Dalam hal inilah objektivitas orang- orang objektif berperan.

This is officially about the writer-_

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s