Merantau #1

IMG_20160601_082031

Di awal perkuliahan gue sering dapat pertanyaan dari teman- teman yang berasal dari Jogja-Jateng-dan sekitar Jawa, “kenapa jauh- jauh banget kuliah kesini?” Gue lantas berpikir kenapa mereka mikirnya Padang- Jogja itu jauh?

Saat itu gue jawab aja karena pertimbangan universitas, akreditasi jurusan, dan prediksi lingkungan hidup yang akan gue alami saat gue memilih Jogjakarta dengan universitas ternamanya. Meskipun memang diantara keluarga yang lain sepertinya keberadaan gue sebagai cucu terakhir cukup jauh, tetapi gue pas input pilihan ini tak pernah mempertimbangkan jarak, seriusan.

Sebenarnya kalau elo jadi anak Minang, putra- putri yang bersekolah di Minangkabau, Sumatera Barat, itu sudah nggak asing lagi bagi mereka untuk kuliah ke Jawa, terutama ke Top Tree, UI, ITB, dan UGM. Mereka punya ambisi yang besar untuk memiliki pengalaman berkuliah di tanah rantau yang jauh dari tanah asal mereka. Bagi orang Minang merantau jauh- jauh itu bisa dikatakan sudah biasa dan memang hal itu berefek besar terhadap perubahan hidup mereka.

Bukan mengindikasikan kita tidak akan berkembang di Tanah Minang, tetapi alasan kenapa banyak pelajar Minang itu merantau karena pengalaman di Tanah Minang sudah mereka alami semenjak lahir sampai setidaknya umur 17 tahun, jadi demi mencari pengalaman baru dan survive di negeri orang, maka mereka akan suka dan bersemangat untuk merantau.

Meskipun merantau itu tidak mudah, iya jelas. Tetapi diantara kesulitan yang dialami oleh pelajar rantau Minang itu, ada berbagai pengalaman berharga yang telah mewarnai hari- hari mereka. Gue tidak menyesali segala kesulitan yang gue alami di minggu- minggu pertama kuliah, karena gue gak bisa lari dari hal itu, gue cuman bisa menghadapi dan melewatinya. Gue juga tau kesulitan- kesulitan kecil yang gue temui sehari- hari itu adalah bagian dari kehidupan karena hidup itu nggak mungkin mulus seperti yang kita mau.

Sementara waktu, gue pergi kuliah jalan kaki. Kalau pulang biasanya juga jalan kaki. Waktu tempuhnya, kalau gue jalan sambil ngobrol sama teman itu kira- kira 17 menit, tapi saat gue lagi dikejar waktu karena kuliah pagi, gue bisa memangkas waktu jalan kaki sampai 10 menit. Kalau pergi- pergi gathering, meet and greet, dan acara- acara lainnya gue beruntung sering dapat tebengan. Tapi gak jarang juga gue harus naik ojek yang tarifnya mahal, padahal gue dulu mikirnya di Jogja itu semua hal murah.

Sejauh ini gue nggak berkendala besar tentang harga makanan di Jogjakarta karena itu gue udah bersyukur banget jika dibandingkan dengan di Padang, tetapi kendala utama yang gue rasakan adalah soal rasa. Ya kali, masakan yang biasanya gue makan sejak lahir kan beda dengan di Jawa ini. Kemarin seminggu PPSMB 16, gue nyaris gak pergi makan kemana- mana di pagi hari dan malam hari, cuman ngandalin nasi kotak yang dikasih panitia di siang hari,samaan dengan teman sekamar gue di ugm residence yang juga teman sma. Alasannya karena gak nafsu makan, belum menemukan tempat yang pas dan kami memutuskan makan roti aja. Tapi lama- kelamaan gak makan- makan seperti itu gue merasa energi tubuh mulai menurun, dan akhirnya gue cari tempat makan yang lumayan baik meskipun harganya nggak terlalu mahasiswa.

#Merantau #MinangJogja #Authorindaily

To Be Continued…

So, How do you feel?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s